Pembinaan Akhlak Santri dan Macam Metode Pembinaannya
Hallo
Assalamualaikum sobat penuntut ilmu! Semoga Allah senantiasa memberikan
keberkahan kepada diri kita yaaa, aaamiin. Nah, pada kesempatan kali ini saya
akan membahas tentang apa itu pembinaan akhlak, apa itu pengertian dari akhlak,
dan apa saja metode yang bisa digunakan untuk membina santri dalam berakhlakul
karimah.
Kita tahu
bahwa pendidikan merupakan pokok penting dalam menjalani kehidupan bagi setiap
manusia. Manusia yang memiliki kesopanan dan santun dalam bertuturkata
merupakan manusia yang berakhlakul karimah baik dia bersikap dengan teman,
guru, keluarga maupun masyarakat.
Banyak metode yang bisa digunakan guru dalam menyampaikan ilmunya kepada peserta didik (santri) ketika pembelajaran dikelas. Terdapat berbagai macam metode pembelajaran dalam kelas guna membina santri dalam berakhlakul karimah. Maka dari itu akan saya bahas disini tentang pembinaan akhlak dan macam metodenya.
Akhlak
berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradatnya “khuluqun” yang berarti
budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Sedangkan menurut istilah
adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk (benar dan salah),
mengatur pergaulan manusia, dan menentukan tujuan akhir dari usaha dan pekerjaannya.
Akhlak pada dasarnya melekat dalam
diri seseorang, bersatu dengan perilaku atau perbuatan. Jika perilaku yang
melekat itu buruk, maka disebut akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah. Sebaliknya,
apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak mahmudah.
Salah satu misi dan tujuan dari kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang utamanya menyempurnakan akhlak mulia, perhatian Islam yang yang demikian terhadap perbaikan dan pembinaan akhlak ini dapat dilihat juga dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus dahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia lahir maupun batin.
Pembinaan akhlak dalam Islam juga terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman. Hasil analisis Muhammaad al-Ghazali terhadap rukun islam yang telah menunjukan dengan jelas, bahwa dalam rukun Islam yang lima itu terkandung konsep pembinaan akhlak bedasarkan analisis yang di dukung oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan hadist kita dapat mengatakan bahwa Islam sangat memberi pengetahuan yang besar terhdap pembinaan akhlak, termasuk cara-caranya, hubungan rukun iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak sebagaimana digambarkan di atas menunjukan cara yang digunakan dengan cara integrated yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana untuk diarahkan pada pembinaan akhlak.Berikut
metode pembinaan akhlak yang dapat digunakan dalam membentuk perilaku santri,
yakni:
a. Metode Uswah
Hasanah (Keteladanan)
Pendidikan perilaku lewat keteladana adalah pendidikan dengan
cara memberikan contoh-contoh kongkrit bagi para santri. Dalam pesantren,
pemberian contoh keteladanan sangat ditekankan. Kiai dan ustadz harus
senantiasa memberikan uswah yang baik bagi para santri, dalam ibadah-ibadah
ritual, kehidupan sehari-hari maupun yang lain dengan cara Latihan dan
Pembiasaan. Metode latihan dan pembiaasaan adalah mendidik dengan cara memberikan
latihan-latihan terhadap norma-norma kemudian membiasakan santri untuk
melakukannya. Dalam pendidikan di pesantren metode ini biasanya akan diterapkan
pada ibadah-ibadah amaliyah, seperti shalat berjamaah, kesopanan pada kiai dan ustadz.
Pergaulan dengan sesama santri, karyawan pesantren dan lainnya.
b. Metode Ibrah
(Pelajaran)
Ibrah berarti merenungkan dan memikirkan, dalam arti umum
bisanya dimaknakan dengan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Tujuan
mendidik melalui ibrah adalah mengantarkan manusia pada kepuasaan dalam
berpikir tentang perkara agama yang bisa menggerakkan, mendidik atau menambah
perasaan keagamaan sehingga
menimbulkan kesadaran pada diri, seperti menumbuhkan ketaatan pada perintah
Allah Subhananu Wa Ta’ala.
c. Metode Mauidzah
(Nasehat)
Mauidzah berarti nasehat. Ulama Rasyid Ridla mengartikan
mauidzah sebagai berikut. ”Mauidzah adalah nasehat peringatan atas kebaikan dan
kebenaran dengan jalan apa yang dapat menyentuh hati dan membangkitkannya untuk
mengamalkan” Metode mauidzah, harus mengandung tiga unsur, yakni:
a) Uraian
tentang kebaikan dan kebenaran yang harus dilakukan oleh seseorang, dalam hal
ini santi, misalnya tentang sopan santun, harus berjamaah maupun kerajinan
dalam beramal.
b) Motivasi
dalam melakukan kebaikan.
c) Peringatan
tentang dosa atau bahaya yang bakal muncul dari adanya larangan bagi dirinya
sendiri maupun orang lain. Metode ini identik dengan pemberian hukuman atau
sangsi. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran santri bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan memberikan contoh
perilaku yang baik.

.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar